Postingan

Menampilkan postingan dengan label Wewit

JEJAK SANG PENGABDI

Gambar
 Sumber: Dokumen Pribadi Ary Toekan Setelah menamatkan pendidikan pada Almamater tercinta SMP San Pankratio Larantuka Juni 1960, berangkatlah M.A. Hanafi ke Kupang seorang diri. Dengan menumpang sebuah perahu layar milik orang Sabu Raijua, dari pelabuhan Larantuka. Malam itu Hanafi merasa sedih karena hanya dirinyalah yang dapat mengerti dan mengunakan Bahasa Indonesia. Seluruh ABK perahu tersebut hanya bisa berbahasa daerah Sabu. Sedangkan juragan perahu selain bahasa ibunya ia juga dapat berbahasa Kupang yang sedikit ada kemiripan dengan Bahasa Indonesia. Sehari telah berlalu, keesokan harinya perahu yang ditumpangi singgah di Pelabuhan Kota Lohayong Solor (terdapat Benteng Portugis). Di pelabuhan ini tiga orang c rew perahu tersebut turun menjajakan dagangan mereka berupa gula air (tuanasu), tikar yang terbaut dari daun lontar dan bawang merah (baca: sebola, bahasa Kupang). Selepas magrib perahu layar itu kembali mengembangkan layarnya menyusuri laut biru menuju pelabuha...

RAMADHAN

Ketika senja benamkan sinar di ufuk  Hilal terlihat di ujung cahaya hamba bersua bulan nan mulia Bersyukur hamba bersujud menunduk Ramadhan  Ketika malam datang di ruku isya Sujud tarawih kirimkan doa Tadarrus Quran senantiasa  Gema suara pancarkan asa  Tanda cinta kitabullah Ramadhan  Saat sahur tiba Kukuhkan iman perbanyak istigfar Zikir tasbih dari hamba Hingga subuh menjemput fajar Ramadhan Dzuhur Ashar pasrahkan sembah Ketika magrib tiba Lantunan adzan tanda berbuka Lumatkan salah lahirkan magfirah   Adonara, 1444 H/2023 M

KABUT DI PUNCAK PASANDAN

Di sini berlalu lagi tujuh purnama di puncak berkabut Pasandan sendiri, kusibak jejak tulusmu karena pergimu meretas nasib gadisku endapkan bulir bening berbalut luka ratapmu yg dikau ukir di meja batu tahta cinta bersemi selalu kueja tanpa lelah Kakak kopon Sin De'i go koon moe hama hala go sedon ata sama tapo nawan daten ti mo inam nimun nabe gesika di ha'e go gute leik kai tadan pana susa go kai seba senan Kaka raya ata belen go koon moe rain kuran go barek ata sama nulan tawan nalan ti mo binem tulaka genola go semu limak kai laran gawe paya go kai sari sarek ue taan nongga nai Kudekap hampa dadaku, perih telah kutinggalkan tahta somba raja tuk sambut indah budimu tapi dinasti purba Lamaholot telah samarkan dikau di sudut malam Sendiri di puncak Pasandan  dalam kabut berbalut luka kuedarkan pandang pada tegar kaku Ile Boleng pada lembah resah tana Igo Enga pada lereng karang Ile Napo Tapi semua sama sabdakan cinta jadi luka buat gadis lugu Uto Boti Bewa Bewa Tena Lolon dan ...

BARU KEMARIN

Banjir airmata mengeruk sampah duka dari peluh letih para perupa yang terluka sisa-sisa lumpur lumpuhkan langkah yang sulit untuk ditangguhkan  Aku sudah bosan dengan wajah-wajah yang dipaksa ayu dengan debu putih huh! aku semakin muak pada laku berdarah yang menyimpan luka bernanah  Ada ribuan senyum congkak lagi nyinyir kini menghiasi bibir bergincu merah yang lekas terhapus oleh air semakin bimbang, semakin tak tentu arah Baru kemarin kita semeja dengan buah pisang dipotong dua lalu sekarang kau patahkan rasa hingga tak ada sapa seperti semula Kolimasang

GUMPALAN HITAM

  Aroma khas lendut kanal sungguh aku tak lupa ribuan kisah kemarin kematian yang berulangkali menancap jiwa kumal jejak ziarah di kota ini lekat dalam rusuk ingatan ada gumpalan hitam masa silamku manampar relung hati yang hampir patah melengkung mengikuti kelokan dusta Tarian si kecil meliuk gemulai melukis deretan pesan laku tebarkan kesan penuh goda aku masih sempat mengejar langkah kaki namun harus aku kubur ikrar tunggal itu pada kedalaman tanah tanpa nisan agar tak ku dengar lagi kebohongan juga kepalsuan kata-katamu Kau bangun menara rapuh di atas puing-puing mimpiku yang tak sempat aku semat di sudut sempit kalbu amuk kemarahan bagai badai padahal kita tak sadar bahwa gumpalan itu telah melekat berbekas pada masa lalu kita hingga kita sudahi tautan rasa di atas tali cinta bertahtakan dusta Gumpalan hitam itu warisan dengki yang tumbuh terus dari benih benci dan kesumat ini tak akan usai. Makassar, 2 Desember 2019

JARAK DAN MASA

  Malam yang tabah telah menggenapkan hitungan Hingga purnama berulang Dan Kau telah lama berpulang Lalu Aku mulai mengemas langkah juga melipat waktu  tanpa tahu kapan tiba di penghujung Tangis pecah  lalu terbenam wajah-wajah  Dan di balik tabir  leleh air mata bercampur peluh  Lantaran antara lelah dan sedih  terselip ribuan perih  merayap merayakan duka juga luka Sebulan tak lama setahun tak jauh Hingga jarak jadi pemisah dan masa jadi penghalang antara mata dan hati Wewit, 26 Juni 2021

TULA TUEN

  Dari Watorotok kupacu langkah lewati ribuan tapak yang tertinggal jauh sudah jejak yang kau tinggal dengan jutaan kenang yang telah kita jamah Reuk Barek mo daiko ue Go tula koda kaan tuen ewa ti ewa nabe genan nena Go tapin laya kaan lile yonem ti mo yonem nabe bisak di kuran Reuk Barek pata mo denge kirin goen ue kirin kaan di saresare peten mo Barek kila nuli tulun mo wenge koda goen koda kaan di dikedike puken mo Barek ratam baran Telah kulewati Walang sampai Kolimasang demi mengejar kisah seribu janji namun yang kutemui cuma bayang dan ilusi patah sudah harap ini hilang sudah rasa ini dan yang tersisa hanyalah rindu Ary Toekan Adonara

MELUMAT KESUMAT

  Larut malam suara gemuruh angin juga debur ombak memecah pantai di langit bulan sabit muncul malu-malu di atas sajadah putih itu tali putus dan tasbih berserakan ucapan tak lagi menggenapi hitungan zikir lalu akal kaku di lumpur pikir Dengung ayat-ayat suci terdengar samar si tua merapal doa dalam lirih pinta berharap taubat dari dosa yang tak berbau digantung pedih hati tanpa temali dan bintang-bintang redup di balik awan Menanak puji pada mulut dan lidah-lidah hingga busa membuncah di pinggir bibir lalu di tenggorokan munajat sumir tersedak lantaran di waktu lalu tak ada ruku enggan bersujud kencang kesiur aliran darah jantung berdegup melumat kesumat hadirkan kasih dekatkan rahmat agar kembara hidup penuh selamat Adonara, 24 Mei 2021 Ary Toekan