BARU KEMARIN
Banjir airmata mengeruk sampah duka
dari peluh letih para perupa yang terluka
sisa-sisa lumpur lumpuhkan langkah
yang sulit untuk ditangguhkan
Aku sudah bosan dengan wajah-wajah
yang dipaksa ayu dengan debu putih
huh! aku semakin muak pada laku berdarah
yang menyimpan luka bernanah
Ada ribuan senyum congkak lagi nyinyir
kini menghiasi bibir bergincu merah
yang lekas terhapus oleh air
semakin bimbang, semakin tak tentu arah
Baru kemarin kita semeja
dengan buah pisang dipotong dua
lalu sekarang kau patahkan rasa
hingga tak ada sapa seperti semula
Kolimasang
Komentar
Posting Komentar