MAHAR UNTUK TUTO
Di sebuah kampung di Adonara yang terpencil namun kaya
akan tradisi, hiduplah seorang pemuda bernama Kopong. Seperti pemuda lainnya, Kopong
juga jatuh cinta. Gadis pujaannya adalah Tuto, seorang perempuan cantik dengan
senyum yang mampu menggerakkan hati siapa saja. Namun, seperti halnya cinta di
Adonara, cinta Kopong dan Tuto harus diuji dengan sebuah tradisi yang tak
pernah usang yakni mahar sebilah gading.
Gading ini bukan sembarang gading. Ini adalah
simbol status, kekayaan, dan kehormatan. Harganya? Ah, jangan ditanya. Bisa membeli
rumah dan mungkin tanah, tapi lebih sering menjadi beban hidup. Kopong, yang kantongnya
lebih akrab dengan angin daripada uang, tahu benar bahwa ia tak akan pernah
bisa membeli gading itu. Tapi cinta, konon, bisa menaklukkan segalanya. Jadi,
mereka memutuskan untuk kawin lari.
Namun, tradisi tetaplah tradisi. Meskipun mereka
kawin lari, keluarga Tuto tetap meminta mahar gading itu. Mau tak mau, Kopong
pun harus mencari cara. Setelah memutar otak, mengais-ngais di celah logika dan
tradisi, Kopong menemukan solusinya yakni utang. Dengan tekad sekuat baja, Kopong
meminjam uang dalam jumlah yang luar biasa besar. Demi sebilah gading yang
harganya hampir sama dengan impian masa depan yang terseret arus utang.
Setelah pesta kecil yang lebih banyak air mata
daripada tawa, Kopong dan Tuto resmi menjadi suami istri. Kebahagiaan mereka, sungguh
sayang hanya bertahan sejenak, seperti angin sepoi-sepoi sebelum badai besar.
Ketika kehamilan Tuto menginjak tiga bulan, Kopong merasa tekanan utang sudah
menindih seperti batu besar yang tak tertanggungkan. Sadar bahwa menanam pohon
uang di Adonara bukanlah pilihan, Kopong pun mengambil keputusan monumental
pergi merantau ke Malaysia.
“Ini keputusan kita bersama,” kata Kopong dengan
serius. Tuto hanya mengangguk, meski ada sedikit keraguan di matanya. Tapi,
apalah daya, di Adonara cinta itu mahal, dan gading lebih mahal lagi.
Di Malaysia, Kopong bekerja tanpa henti di
perkebunan kelapa sawit. Dia mengirim uang secukupnya untuk kebutuhan hidup
Tuto dan sisanya untuk membayar utang. Dia jarang pulang, mungkin lebih jarang
daripada hujan di musim kemarau. Bahkan, ketika Tuto melahirkan anak kembar, Kopong
tak ada di sana. Tapi Tuto, sebagai istri yang baik dan pengertian, tak pernah
mempermasalahkan hal itu. Toh, mereka sudah sepakat. “Kami sudah sepakat,” Tuto
berkata kepada tetangga yang bertanya kenapa Kopong tak pulang-pulang. “Dia sedang
mencari uang untuk masa depan kita. Ya, meskipun masa depan itu dimulai dengan
utang ratusan juta karena sepotong gading.”
Di kampung, kisah mereka menjadi bahan cerita
yang diwariskan dari mulut ke mulut. Beberapa orang memuji Kopong sebagai suami
yang bertanggung jawab, sementara yang lain tersenyum kecut. “Hebat betul
tradisi kita ini,” kata mereka. “Membuat orang rela berutang untuk membeli
sepotong gading gajah, lalu meninggalkan keluarga demi melunasinya.”
Sementara itu, Kopong terus bekerja, dan Tuto
terus menunggu, berharap suatu hari mereka bisa hidup bahagia. Setidaknya,
setelah semua utang lunas, kalau pun itu terjadi sebelum anak-anak mereka
tumbuh dewasa dan menikah, dengan mahar gading yang sama mahalnya.
"Tradisi adalah tradisi," pikir Kopong,
sambil tersenyum pahit di tengah ladang sawit di Malaysia. "Cinta bisa
menaklukkan segalanya, kecuali harga gading."

Komentar
Posting Komentar