Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya
![]() |
| Sumber: Dokumen Pribadi |
Konten ini telah tayang di
Kompasiana.com dengan judul "Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.2
Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya",
Kompasiana adalah platform blog. Konten
ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Disini saya akan menyampaikan refleksi
dengan menggunakan model 4F atau 4P yaitu Facs (Peristiwa), Filing (Perasaan),
Findings (Pembeajaran) dan Future (Penerapan)
Modul 3.2 dengan materi pemimpin dalam
pengelolaan sumber daya. Perjalanan mempelajari modul 3.2 merupakan kelanjutan
dari modul sebelumnya yaitu modul 3.1. Pada modul sebelumnya Pembelajaran
menggunakan alur MERDEKA (Mulai dari diri sendiri, Eksplorasi konsep, Ruang
kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi,
dan Aksi nyata).
Dimulai pada tanggal 2 Mei 2023 kegiatan pertama adalah "mulai dari diri". Pada kegiatan ini, CGP diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang bertujuan untuk mengaktifkan ulang pengetahuan awal Anda tentang ekosistem sekolah dan peran pemimpin dalam pengelolaan sumber daya sekolah.
Kemudian memasuki alur kedua yaitu eksplorasi konsep, pada alur eksplorasi konsep calon guru penggerak belajar secara mandiri melalui materi-materi yang disajikan dalam forum LMS, calon guru penggerak juga diminta untuk mendalami materi pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. Disini kami mempelajari sekolah sebagai ekosistem, Pendekatan berbasis kekurangan dan pendekatan berbasis kekuatan/aset, pendekatan ABCD (Asset Based Community Development), karakteristik komunitas yang sehat dan komunitas, pengalaman rapat dan mendiskusikan murid. Disini juga kami mempelajari kasus 1 dan kasus 2 tentang kegiatan rapat guru membahas perpisahan siswa yang lulus sekolah di sebuah sekolah dasar. Kami diajak untuk melakukan analisa mengenai suasana rapat tersebut.
Kemudian kami Memasuki alur ketiga
yaitu ruang kolaborasi. Fasilitator kami yaitu Ibu Edoharia Dwidoko membagi
beberapa kelompok dan saya bersama 3 rekan saya yaitu Ibu Maria Kidi Uhe dari
SMAN 1 Adoanara Barat, Ibu Maria Uba Tupen dari SDK Lebao Tengah dan Martha K.
Tukan dari SDI Waidang yang tergabung dalam kelompok 1.
Alur yang keempat yaitu demontrasi kontekstual kami ditugaskan untuk menganalisis video di LMS tentang visi dan prakarsa perubahan, mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan masing-masing tahapan BAGJA, mengidentifikasi peran pemimpin pembelajaran, dan menganalisis modal utama yang dapat dimanfaatkan. Tugas ini harus kami unggah di LMS dan berakhir pada tanggal 11 Maret 2024 dalam bentuk tulisan ataupun video.
Alur yang kelima adalah Eloborasi pemahaman yang diawali dengan membuat pertanyaan. Selanjutnya seluruh CGP Angkatan IX mengiktui Vicon Elaborasi Pemahaman bersama instruktur kami yaitu Ibu Teguh Purwantarai yang memberikan materi pemimpin dalam pengelolaan sumber daya dengan ice breaking, diskusi, tanya jawab, dan penugasan.
Dan yang terakhir yaitu alur yang
keenam adalah koneksi antar materi mengaitkan materi pemimpin dalam pengelolaan
sumber daya dengan materi yang telah didapatkan pada modul sebelumnya. Alur
terakhir dari alur merdeka adalah aksi nyata.
Pada aksi nyata ini calon guru
penggerak diminta untuk melakukan aksi nyata dengan mengidentifikasikan sumber
daya sebagai aset/kekuatan yang dimiliki sekolah. Identifikasi sumber daya
sekolah dilakukan secara kolaboratif agar semua warga sekolah dapat
bersama-sama mengetahui dan memanfaatkannya untuk peningkatan kualitas
pendidikan. Hasil dan proses pemetaan secara kolaboratif dapat dilaporkan dalam
bentuk yang sesuai dengan kreativitas CGP, misalnya berupa foto atau video, dan
lainnya. Dokumentasi dari proses ini akan dinilai pada kunjungan pendampingan
individu ke-6.
2. Feelings
(Perasaan)
Perasaan sebelum mempelajari modul 3.1
ini saya berpikir kekurangan dan masalah yang ada di kelas dan di sekolah dan
saya berpikir bahwa aset yang ada di sekolah hanya berupa sarana dan prasana
terutama potensi murid yang kurang pengelolaan sebagai sumber daya
sekolah.
Setelah mempelajari Modul 3.2 ini
ternyata terdapat 7 aset sebagai kekuatan utama dalam peningkatan mutu
pendidikan sekolah dan pembelajaran di kelas dengan melakukan pendekatan
berbasis aset sebagai sumber daya untuk mencapai visi dan misi sekolah dan
nasional. Saya sangat senang dan bersyukur dapat mempelajari sumber daya di
sekolah sebagai aset/kekuatan sehingga menambah pemahaman saya dalam
mengelolanya sehingga bermanfaat dalam pembelajaran di kelas dan di sekolah.
3. Findings
(Pembelajaran)
Pembelajaran yang saya peroleh dalam
modul ini yaitu kami diajak untuk mengingat dan menulis tentang ekosistem
sekolah dan peran pemimpin dalam pengelolaan sumber daya sekolah. Sekolah
sebagai sebuah ekosistem terdiri dari faktor biotik yaitu kepala sekolah,
pengawas, guru, tenaga kependidikan, murid, orang tua, komite, masyarakat, dan
dinas terkait. Sedangkan faktor abioti terdiri atas keuangan, gedung/sarana dan
lingkungan alam. Dalam pengelolaan sumber daya dapat dilakukan dengan 2
pendekatan, yaitu pendekatan berbasis kekurangan (Defisit Based Approach) dan
pendekatan berbasis aset/kekuatan (Asset Based Approach).
Selain itu pengelolaan sumber daya yang
ada di sekolahnya juga dapat menggunakan pendekatan Pengembangan Komunitas
berbasis Aset (Asset-Based Community Development/ABCD). Karakter komunitas yang
sehat yaitu: memperaktikkan dialog, menumbuhkan komitmen, membangun koneksi,
mengenal dirinya sendiri, membentuk masa depan, bertindak dengan obsesi ide dan
peluang, merangkul perubahan dan bertanggung jawab, dan menghasilkan
kepemimpinan. Aset aset dalam sekolah/komunitas, terdiri dari 7 macam, yaitu :
modal manusia, modal sosial, modal politik, modal agama dan budaya, modal
fisik, modal lingkungan/alam, dan modal finansial.
4. Future
(Penerapan)
Rencana kedepannya dalam penerapan di
kelas dan di sekolah bahwa sebagai pemimpin saya harus mengelola 7 aset utama
sebagai kekuatan dalam meningkatan mutu pendidikan sekolah dengan menggunakan
pendekatan berbasis kekuatan/aset dan pendekatan berbasis kekurangan. Saya
memandang guru sebagai aset manusia yang utama dalam melaksanakan pembelajaran
harus berinovasi dan memperkaya diri dalam mengelola sumber daya di kelas dan
di sekolah agar tercipta pendidikan yang berpihak pada murid.
Menuntun segala kodrat yang ada pada
anak, memberdayakan nilai dan peran guru, membuat visi perubahan, menciptakan
budaya positif, menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional
agar pengambilan keputusan tepat, melakukan coach dan supervise akademik,
pengambilan keputusan yang berbasis nilai kebajikan dapat dilakukan jika
pengelolaan sumber daya dapat dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Sekian dan Terima Kasih, Salam Guru Penggerak, Salam Guru Hebat, Guru Bergerak, Indonesia Maju.*

Komentar
Posting Komentar