KONEKSI ANTAR MATERI

 KONEKSI ANTAR MATERI

Oleh: Asy’ari Hidayah Hanafi, S.Pd

Guru SMP Negeri Panca Marga

CGP. Angkatan 9 Kabupaten Flores Timur


Sumber: Dokumen Pribadi

Pemikiran reflektif saya terkait pengalaman belajar di modul 2.3 adalah bahwa coaching merupakan kegiatan yang lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Coaching berbeda dengan mentoring, konseling, fasilitasi dan training. Stone (2002) mendefinisikan mentoring sebagai suatu proses dimana seorang teman, guru, pelindung, atau pembimbing yang bijak dan penolong menggunakan pengalamannya untuk membantu seseorang dalam mengatasi kesulitan dan mencegah bahaya. Gibson dan Mitchell (2003) menyatakan bahwa konseling adalah hubungan bantuan antara konselor dan klien yang difokuskan pada pertumbuhan pribadi dan penyesuaian diri serta pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Shwarz (1994) mendefinisikan fasilitasi sebagai sebuah proses dimana seseorang yang dapat diterima oleh seluruh anggota kelompok, secara substantif berdiri netral, dan tidak punya otoritas mengambil kebijakan, melakukan intervensi untuk membantu kelompok memperbaiki cara-cara mengidentifikasi dan menyelesaikan berbagai masalah, serta membuat keputusan, agar bisa meningkatkan efektivitas kelompok itu. Training menurut Noe, Hollenbeck, Gerhart & Wright (2003) merupakan suatu usaha yang terencana untuk memfasilitasi pembelajaran tentang pekerjaan yang berkaitan dengan pengetahuan, keahlian dan perilaku oleh para pegawai.

Keterampilan coaching perlu dimiliki para pendidik untuk menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Sistem Among, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan menggunakan pendekatan coaching. Tut Wuri Handayani menjadi kekuatan dalam pendekatan proses coaching dengan memberdayakan (andayani/handayani) semua kekuatan diri pada murid. Sebagai seorang Guru (pendidik/pamong) dengan semangat Tut Wuri Handayani, maka perlulah kita menghayati dan memaknai cara berpikir atau paradigma berpikir Ki Hajar Dewantara sebelum melakukan pendampingan dengan pendekatan coaching sebagai salah pendekatan komunikasi dengan semangat among (menuntun).  Dalam relasi guru dengan guru, seorang coach juga dapat membantu seorang coachee untuk menemukan kekuatan dirinya dalam pembelajaran. Pendekatan komunikasi dengan proses coaching merupakan sebuah dialog antara seorang coach dan coachee yang terjadi secara emansipatif dalam sebuah ruang perjumpaan yang penuh kasih dan persaudaraan. Oleh sebab itu, empat (4) cara berpikir ini dapat melatih guru (coach/pamong) dalam menciptakan semangat Tut Wuri Handayani dalam setiap perjumpaan pada setiap proses komunikasi dan pembelajaran.

Dalam dunia pendidikan, hubungan yang erat antara materi modul 2.3 Coaching dan Supervisi Akademik menurut saya sangat penting untuk membantu guru-guru jadi lebih profesional. Modul ini bermanfaat sekali bagi saya, karena memberikan tips dan trik coaching serta supervisi yang bisa langsung digunakan di sekolah. Dengan memahami isi modul ini dengan baik, para guru bisa menciptakan suasana belajar yang lebih baik dan membantu murid-murid tumbuh dengan lebih baik.

Bagaimana peran Anda sebagai seorang coach di sekolah dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya di paket modul 2 yaitu pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi?

Jawaban

Peran Guru Penggerak dalam Pengembangan Kompetensi Pemimpin Pembelajaran di SMP Negeri Panca Marga

Sebagai seorang guru penggerak di SMP Negeri Panca Marga, tanggung jawab saya tidak terbatas pada ruang kelas. Sebaliknya, peran saya melibatkan dukungan terhadap pengembangan kompetensi pemimpin pembelajaran di sekolah. Dalam modul 2 yang baru-baru ini saya jelajahi, khususnya pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi, saya menemukan keterkaitan yang erat antara materi tersebut dan tanggung jawab saya sebagai coach.

1. Salah satu fokus utama saya sebagai coach adalah membantu guru-guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang berfokus pada pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi. Saya percaya bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan dan preferensi belajar yang unik. Oleh karena itu, saya berperan dalam memberikan panduan kepada rekan guru dalam menciptakan strategi yang responsif terhadap perbedaan tersebut.

Materi dari modul 2 memberikan fondasi yang kuat, memberikan pemahaman yang mendalam tentang konsep pembelajaran berdiferensiasi dan pentingnya memahami dimensi sosial dan emosional dalam proses belajar. Dengan demikian, saya dapat membimbing guru-guru untuk mengimplementasikan strategi ini dalam rencana pembelajaran mereka.

2. Mengintegrasikan Pembelajaran Berdiferensiasi dan Sosial-Emosional

Peran saya tidak hanya berhenti pada memberikan bimbingan, tetapi juga melibatkan membantu guru-guru mengevaluasi efektivitas strategi pembelajaran mereka. Melalui proses evaluasi ini, saya memberikan umpan balik konstruktif untuk membantu meningkatkan praktik pembelajaran mereka.

Dalam konteks ini, modul 2 membekali saya dengan alat evaluasi yang lebih baik. Saya dapat mengajak guru-guru untuk merenung pada sejauh mana pembelajaran berdiferensiasi dan komponen sosial-emosional terintegrasi dalam kurikulum dan kegiatan kelas mereka. Ini menciptakan kesadaran akan keberhasilan dan area perbaikan, memungkinkan guru-guru untuk terus berkembang.

3. Mengembangkan Keterampilan Mengajar

Keterampilan mengajar merupakan inti dari keberhasilan pendidikan. Saya memainkan peran penting dalam membantu rekan guru mengembangkan keterampilan ini. Melalui pendekatan coaching, saya membantu mereka mengidentifikasi gaya belajar siswa, mengenali kekuatan dan kelemahan mereka, serta menyesuaikan metode pengajaran untuk memenuhi kebutuhan dan preferensi dari setiap siswa yang beragam.

Materi modul memberikan saya wawasan yang mendalam tentang keterkaitan antara pembelajaran berdiferensiasi dan aspek sosial-emosional. Dengan pengetahuan ini, saya membimbing guru-guru untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan holistik setiap siswa.

4. Meningkatkan Kinerja Murid

Sebagai seorang coach, saya menyadari bahwa kinerja murid tidak hanya mencakup pencapaian akademis, tetapi juga perkembangan sosial dan emosional. Keterampilan coaching memungkinkan saya membantu pemimpin pembelajaran untuk mendorong pembelajaran berdiferensiasi, memperkuat keterampilan sosial dan emosional murid, dan meningkatkan keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran.

Dengan memanfaatkan materi dari modul 2, saya menggali lebih dalam aspek sosial dan emosional yang memengaruhi kinerja murid. Dengan pendekatan ini, saya mendukung guru-guru dalam menciptakan iklim kelas yang mendukung perkembangan seluruh siswa, memastikan bahwa tidak ada siswa yang tertinggal.

5. Mendorong Kolaborasi

Kolaborasi merupakan elemen kunci dalam pengembangan kompetensi pemimpin pembelajaran. Saya berfungsi sebagai pendorong kolaborasi antara guru, siswa, dan staf pengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang lebih baik. Saya membantu dalam membangun jembatan komunikasi dan kerja sama di sekolah.

Modul 2 memberikan saya pandangan yang mendalam tentang bagaimana kolaborasi dapat memperkaya pengalaman belajar. Saya mengajak guru-guru untuk berbagi ide, pengalaman, dan sumber daya, membentuk komunitas pembelajaran yang saling mendukung di SMP Negeri Panca Marga

Keterkaitan Materi Modul 2 dengan Peran Coach

Secara keseluruhan, materi yang disajikan dalam modul 2 menjadi landasan yang kokoh untuk peran saya sebagai seorang coach di SMP Negeri Panca Marga. Dengan mendalaminya, saya dapat memberikan dukungan yang lebih efektif kepada rekan guru dalam mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial-emosional.

Pentingnya memahami keunikan setiap siswa, mengintegrasikan aspek sosial dan emosional dalam pembelajaran, dan mendorong kolaborasi adalah konsep-konsep yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak dalam menghadapi dinamika dunia pendidikan saat ini. Sebagai seorang coach, saya melihat bahwa pengembangan kompetensi pemimpin pembelajaran adalah langkah krusial dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan bermakna

Bagaimana keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran?

Jawaban

Senang dan merasa beruntung terpilih menjadi seorang CGP. Ketika saya mengalami pembelajaran tentang coaching untuk supervisi akademik. Mempelajari materi Coaching untuk Supervisi Akademik membuat saya seperti berada di ruang kemerdekaan belajar yang sesungguhnya. Saat menjadi coachee, maka saya merasakan betapa saya dihargai dengan digali oleh pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya menemukan sendiri solusi dari permasalahan saya. Ketika menjadi coach, saya juga merasakan betapa kita harus belajar sabar untuk mau mendengarkan aktif, memberi kesempatan kepada coachee untuk menemukan solusi tanpa kita ikut campur tangan memberikan saran dan masukan. Saat menjadi pengamat saya juga belajar bagaimana menjadi pengamat yang harus sabar, belajar terbuka melihat sisi-sisi baik seseorang, tidak memberikan judgement dari apapun yang diamati.

Sesuatu yang sudah baik dalam proses belajar dalam diri saya adalah berusaha memberikan pembelajaran yang bermakna dan kontekstual kepada siswa, mengajak siswa untuk belajar dengan kehadiran penuh dan wellbeing. Namu nada beberapa kompetensi yang masih harus saya perbaiki yaitu membersamai dengan mindfulness.

Kompetensi Inti Coaching:

  1. Mengajukan pertanyaan berbobot adalah mengajukan pertanyaan dengan tujuan tertentu atau pertanyaan berbobot. Pertanyaan yang diajukan seorang coach diharapkan menggugah orang untuk berpikir dan dapat menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan hal-hal yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya, mengungkapkan emosi atau nilai dalam diri dan yang dapat mendorong coachee untuk membuat sebuah aksi bagi pengembangan diri dan kompetensi.
  2. Mendengarkan dengan aktif adalah kemampuan untuk fokus pada apa yang dikatakan oleh lawan bicara dan memahami keseluruhan makna yang tidak terucap.
  3. Kehadiran penuh (presence) adalah kemampuan untuk bisa hadir utuh pada coachee, atau di dalam coaching disebut sebagai coaching presense sehingga badan, pikiran, hati, selaras saat sedang melakukan percakapan coaching. Kehadiran penuh ini adalah bagian dari kesadaran diri yang akan membantu munculnya paradigma berpikir dan kompetensi lain saat kita melakukan percakapan coaching.

Alur Percakapan TIRTA: Tirta berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya. Sebagai seorang coach salah satu peran terpentingnya adalah membantu coachee.

TIRTA terdari dari Tujuan awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee. Identifikasi dimana coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi.

Rencana Aksi dimana pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat. Tanggungjawab dimana membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya.

 Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching:

Dalam pelaksanaannya ada dua paradigma utama dalam menjalankan proses supervisi akademik yang memberdayakan, yakni paradigma pengembangan kompetensi yang berkelanjutan dan optimalisasi potensi setiap individu.

Prinsip supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching meliputi kemitraan, proses kolaboratif antara supervisor dan guru, konstrukti bertujuan mengembangkan kompetensi individu, terencana, reflektif, objektif, informasi diambil berdasarkan sasaran yang sudah disepakati, berkesinambungan, komprehensif: mencakup tujuan dari proses supervisi akademik.

Sedangkan pelaksanaan supervisi akademik didasarkan pada kebutuhan dan tujuan sekolah dan dilaksanakan dalam tiga tahapan, yakni perencanaan, pelaksanaan supervisi, dan tindak lanjut. Tahap perencanaan, supervisor merumuskan tujuan, melihat pada kebutuhan pengembangan guru, memilih pendekatan, teknik, dan model, menetapkan jadwal, dan mempersiapkan ragam instrumen.

Dalam tahapan pelaksanaan supervisi akademik adalah observasi pembelajaran di kelas atau yang biasanya kita sebut sebagai supervisi klinis. Tahap tindak lanjut, berupa kegiatan langsung atau tidak langsung seperti percakapan coaching, kegiatan kelompok kerja guru di sekolah, fasilitasi dan diskusi, serta kegiatan lainnya dimana para guru belajar dan memiliki ruang pengembangan diri lewat berbagai kegiatan.

Keterkaitan materi modul 2.1 tentang Pembelajaran Berdiferensiasi dan modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional (PSE), jika dihubungkan dengan materi coaching maka pembelajaran berdiferensiasi dimana guru harus berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa yang terdiri dari kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar siswa.

Langkah untuk memetakan kebutuhan individu siswa tersebut, guru bisa berperan sebagai coach untuk melakukan proses coaching dengan siswa sebagai coachee. Hal tersebut mampu mengoptimalkan potensi yang ada dalam diri siswa sehingga akan menemukan cara terbaik dalam memenuhi kebutuhan individu siswa.

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) yang harus dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah untuk menumbukan kompetensi tentang kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab pada diri siswa. Proses coaching sejalan dengan PSE karena kompetensi sosial emosional tersebut dapat diterapkan oleh guru dalam proses coaching kepada siswa.

Keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran. Terdapat 4 macam paradigma berpikir coaching, yaitu: (1) fokus pada coachee (rekan yang akan dikembangkan, (2) bersikap terbuka dan ingin tahu, (3) memiliki kesadaran diri yang kuat, dan (4) mampu melihat peluang baru dan masa depan.

Juga 3 kompetensi inti yang penting dipahami, diterapkan, dan dilatih secara terus menerus saat melakukan percakapan coaching kepada teman sejawat di sekolah, yaitu: (1) kehadiran penuh (presence), (2) mendengarkan aktif (menyimak), dan (3) mengajukan pertanyaan berbobot.

Salah satu referensi yang dapat kita gunakan untuk mengajukan pertanyaan berbobot hasil dari mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan oleh Julian Treasure.

RASA merupakan akronim dari Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask. Dimana R (Receive/Terima), yang berarti menerima/mendengarkan semua informasi yang disampaikan coachee. Perhatikan kata kunci yang diucapkan.

A (Appreciate/Apresiasi), yaitu memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita mendengarkan coachee. Respon yang diberikan bisa dengan anggukan, dengan kontak mata atau melontarkan kata. Bentuk apresiasi akan muncul saat kita memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya pada coachee tidak terganggu dengan situasi lain.

S (Summarize/Merangkum), saat coachee selesai bercerita rangkum untuk memastikan pemahaman kita sama. Perhatikan dan gunakan kata kunci yang diucapkan coachee.

A (Ask/Tanya), coach mengajukan pertanyaan berbobot berdasarkan apa yang didengar dan hasil merangkum (summarizing), membuat pemahaman coachee lebih dalam tentang situasinya, hasil mendengarkan yang mengandung penggalian atas kata kunci atau emosi yang sudah dikonfirmasi, dan pertanyaan terbuka: menggunakan apa, bagaimana, seberapa, kapan, siapa atau di mana dan hindari menggunakan pertanyaan tertutup: “mengapa” atau “apakah” atau “sudahkah”.

Jika keterampilan coaching sudah meningkat maka pengembangan kompetensi guru sebagai pemimpin pembelajaran akan meningkat pula. Percakapan-percakapan coaching membantu para guru berpikir lebih dalam (metakognisi) dalam menggali potensi yang ada dalam diri dan komunitas sekolahnya sekaligus menghadirkan motivasi internal sebagai individu pembelajar yang berkelanjutan yang akan diwujudnyatakan dalam buah pikir dan aksi nyata demi tercapainya kualitas pembelajaran yang berpihak pada murid.

Sebagai penutup, hubungan antara materi modul 2.3 Coaching dan Supervisi Akademik tidak hanya memberikan guru alat untuk menjadi lebih baik, tapi juga membantu membaut suasana belajar yang bermanfaat untuk tumbuh dan suksesnya murid. Dengan menggabungkan semua hal ini dengan cerdas, guru bisa menghadapi masalah di dunia pendidikan dengan percaya diri dan hasil yang positif buat murid-murid mereka.*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MELUMAT KESUMAT

RAMADHAN

MAHAR UNTUK TUTO