Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2023

RAMADHAN

Ketika senja benamkan sinar di ufuk  Hilal terlihat di ujung cahaya hamba bersua bulan nan mulia Bersyukur hamba bersujud menunduk Ramadhan  Ketika malam datang di ruku isya Sujud tarawih kirimkan doa Tadarrus Quran senantiasa  Gema suara pancarkan asa  Tanda cinta kitabullah Ramadhan  Saat sahur tiba Kukuhkan iman perbanyak istigfar Zikir tasbih dari hamba Hingga subuh menjemput fajar Ramadhan Dzuhur Ashar pasrahkan sembah Ketika magrib tiba Lantunan adzan tanda berbuka Lumatkan salah lahirkan magfirah   Adonara, 1444 H/2023 M

KABUT DI PUNCAK PASANDAN

Di sini berlalu lagi tujuh purnama di puncak berkabut Pasandan sendiri, kusibak jejak tulusmu karena pergimu meretas nasib gadisku endapkan bulir bening berbalut luka ratapmu yg dikau ukir di meja batu tahta cinta bersemi selalu kueja tanpa lelah Kakak kopon Sin De'i go koon moe hama hala go sedon ata sama tapo nawan daten ti mo inam nimun nabe gesika di ha'e go gute leik kai tadan pana susa go kai seba senan Kaka raya ata belen go koon moe rain kuran go barek ata sama nulan tawan nalan ti mo binem tulaka genola go semu limak kai laran gawe paya go kai sari sarek ue taan nongga nai Kudekap hampa dadaku, perih telah kutinggalkan tahta somba raja tuk sambut indah budimu tapi dinasti purba Lamaholot telah samarkan dikau di sudut malam Sendiri di puncak Pasandan  dalam kabut berbalut luka kuedarkan pandang pada tegar kaku Ile Boleng pada lembah resah tana Igo Enga pada lereng karang Ile Napo Tapi semua sama sabdakan cinta jadi luka buat gadis lugu Uto Boti Bewa Bewa Tena Lolon dan ...

SEUNTAI TIRAI

Pada seuntai tirai kelabu tali-tali terajut di antara bilah-bilah bambu ku pandangi samar siluet wajah adakah bahagia, entah? mungkinkah senyum sumringah? Ah! di pagi kemarin kita sesua lalu tanpa pamit kau berlalu hari ini ku dengar parau suaramu tak ada lengkingan sengau tapi yang ada erangan gagu Harusnya kau berteriak lalu bergema membahana hingga memekik di telinga bahkan jantung lebih cepat berdetak hemm! aku masih ingin menguping jadi teruslah bicara! tak perlu ada lengang Ary Toekan Adonara,

BARU KEMARIN

Banjir airmata mengeruk sampah duka dari peluh letih para perupa yang terluka sisa-sisa lumpur lumpuhkan langkah yang sulit untuk ditangguhkan  Aku sudah bosan dengan wajah-wajah yang dipaksa ayu dengan debu putih huh! aku semakin muak pada laku berdarah yang menyimpan luka bernanah  Ada ribuan senyum congkak lagi nyinyir kini menghiasi bibir bergincu merah yang lekas terhapus oleh air semakin bimbang, semakin tak tentu arah Baru kemarin kita semeja dengan buah pisang dipotong dua lalu sekarang kau patahkan rasa hingga tak ada sapa seperti semula Kolimasang